Di balik ketenangan sosoknya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak Papua yang menapaki birokrasi dari bawah hingga dipercaya memimpin Papua Barat selama dua periode. Bukan sekadar kisah tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian, identitas, dan harapan bagi tanah yang dicintainya.
Pagi itu, matahari perlahan menyibak kabut yang menyelimuti Pegunungan Arfak.
Di balik bentangan hutan tropis yang masih perawan, alam Papua mengajarkan sebuah filosofi sederhana: tidak ada puncak yang dapat dicapai tanpa melewati tanjakan yang panjang.
Filosofi itulah yang seolah melekat dalam perjalanan hidup Dominggus Mandacan.

Jauh sebelum masyarakat mengenalnya sebagai Gubernur Papua Barat, ia adalah seorang aparatur negara yang mengabdikan dirinya di berbagai pelosok Papua. Ia mengenal birokrasi bukan dari balik meja rapat, tetapi dari jalan-jalan tanah yang menghubungkan kampung dengan kampung.
Barangkali karena itulah, ketika akhirnya memimpin Papua Barat, ia tidak sekadar melihat angka-angka pembangunan. Ia melihat wajah-wajah masyarakat yang selama puluhan tahun menaruh harapan kepada negara.
“Seorang pemimpin sejati tidak hanya membangun jalan menuju kota, tetapi juga membuka jalan harapan bagi generasi yang akan datang.”
Ketika Anak Pegunungan Menjadi Simbol Harapan
Tidak semua pemimpin lahir dari pusat kekuasaan.
Sebagian justru lahir dari tempat-tempat yang jauh dari sorotan.
Dominggus Mandacan tumbuh sebagai putra asli Suku Besar Arfak, sebuah komunitas adat yang selama berabad-abad menjaga hutan, gunung, dan tradisi leluhurnya.
Menjadi gubernur bukan sekadar capaian pribadi.
Bagi banyak masyarakat Papua Barat, kehadirannya merupakan simbol bahwa anak-anak adat memiliki ruang yang sama untuk memimpin daerahnya sendiri.
Simbol itu melahirkan optimisme.
Bahwa birokrasi dapat menjadi ruang pengabdian.
Bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan.
Bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh dedikasi.
Belajar Memimpin dari Akar Rumput
Karier Dominggus Mandacan tidak dibangun dalam semalam.
Ia mengawali perjalanan sebagai birokrat.
Menjadi camat.
Belajar memahami denyut kehidupan masyarakat.
Mengambil keputusan-keputusan kecil yang berdampak besar bagi kehidupan warga.
Pengalaman itu kemudian membawanya menjadi Bupati Manokwari.
Di sana ia belajar bahwa membangun daerah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur.
Pembangunan sejati adalah membangun kepercayaan.
Membangun pelayanan.
Membangun manusia.
“Birokrasi yang baik bukan hanya mampu menjalankan aturan, tetapi juga menghadirkan negara dalam kehidupan masyarakat.”
Ketika Amanah Menjadi Sejarah
Tahun 2017 menjadi salah satu babak penting dalam sejarah Papua Barat.
Dominggus Mandacan dipercaya memimpin provinsi sebagai gubernur.
Momentum tersebut bukan hanya pergantian kepemimpinan.
Ia menjadi penanda semakin besarnya kepercayaan masyarakat kepada putra-putra terbaik Papua untuk menentukan arah pembangunan daerahnya sendiri.
Di pundaknya, tersimpan harapan tentang birokrasi yang profesional.
Pelayanan publik yang semakin baik.
Pembangunan yang menjangkau seluruh wilayah.
Dan kesejahteraan yang dirasakan hingga kampung-kampung terpencil.
Mewariskan Bukan Sekadar Membangun
Sejarah selalu bertanya kepada setiap pemimpin:
Apa yang akan ditinggalkan?
Gedung pemerintahan akan menua.
Jalan akan diperbaiki.
Jembatan akan diganti.
Namun satu hal yang bertahan lebih lama daripada beton adalah kepercayaan masyarakat.
Warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah bangunan.
Melainkan birokrasi yang bekerja.
ASN yang melayani.
Masyarakat yang percaya.
Generasi muda yang memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
“Jabatan memiliki batas waktu. Pengabdian tidak.”
Papua Barat dan Masa Depan
Kini Papua Barat memasuki babak baru.
Tantangan pembangunan semakin kompleks.
Transformasi birokrasi menjadi kebutuhan.
Peningkatan kualitas SDM menjadi keharusan.
Pelayanan publik harus semakin cepat, transparan, dan akuntabel.
Di tengah perubahan tersebut, kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan mengambil keputusan.
Tetapi dari kemampuan membangun kolaborasi.
Menyatukan keberagaman.
Dan memastikan pembangunan menyentuh masyarakat hingga ke pelosok.
Suatu hari nanti…
Anak-anak Papua Barat mungkin tidak lagi mengingat angka-angka APBD.
Mereka mungkin tidak menghafal berapa kilometer jalan yang dibangun.
Namun mereka akan selalu mengingat siapa saja yang pernah berusaha membuka jalan bagi masa depan mereka.
Di sanalah sejarah menemukan maknanya.
Bukan pada panjangnya masa jabatan.
Melainkan pada luasnya manfaat yang ditinggalkan.
Dan di antara lembar-lembar sejarah Papua Barat, nama Dominggus Mandacan akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang tentang seorang anak Arfak yang memilih mengabdikan hidupnya untuk tanah yang membesarkannya. (K.A. Baransano)

