Papua Tidak Butuh ASN yang Pandai Mendekat, Tapi yang Berani Berdiri

Spread the love

Di banyak kantor pemerintahan di Papua, ada satu kenyataan yang semua orang tahu tapi jarang diucapkan keras-keras: karier tidak selalu ditentukan oleh kerja, melainkan oleh kedekatan hal ini yang selelu menjadi tujuan dari para ASN yang terlihat selalu tampil didepan public dan saat kebanyakan acara seremonial.

Di sinilah masalahnya bermula.

ASN yang seharusnya menjadi mesin pelayanan publik, perlahan bergeser menjadi pemain dalam “politik kantor”. Yang lihai membaca arah kekuasaan, sering kali melaju. Yang bekerja dalam diam, justru tertinggal. Ini bukan tuduhan. Ini realitas yang hidup.

Loyalitas yang Keliru.

Loyalitas adalah nilai penting dalam birokrasi. Tapi ketika loyalitas diarahkan kepada individu, bukan kepada aturan, maka yang lahir adalah ASN yang pandai menyenangkan atasan bukan melayani rakyat. Perintah dijalankan bukan karena benar, tapi karena datang dari “orang yang tepat”. Kesalahan dibiarkan bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak berani. Padahal, semangat dasar birokrasi telah jelas diatur dalam UU ASN: ASN harus profesional, netral, dan berintegritas. Namun di lapangan, prinsip itu sering kalah oleh realitas kekuasaan.

Ketika Integritas Menjadi Risiko Di Papua, menjadi ASN jujur bukan sekadar pilihan moral kadang itu adalah risiko karier. Berani berbeda pendapat bisa berarti : dipinggirkan, dimutasi ke wilayah terpencil, atau sekadar “dibekukan” dari peran strategis.

Akhirnya, banyak yang memilih diam.

Bukan karena tidak peduli, tapi karena sistem tidak memberi ruang aman untuk bersikap benar. Di titik ini, birokrasi kehilangan suara hatinya.

Dana Besar, Dampak Kecil

Papua bukan daerah miskin anggaran. Dana otonomi khusus mengalir besar setiap tahun. Namun pertanyaan yang terus muncul adalah: mengapa dampaknya belum sebanding?

Salah satu jawabannya ada di sini pada kualitas birokrasi itu sendiri. Ketika ASN lebih sibuk menjaga posisi daripada memastikan program tepat sasaran, maka:

pembangunan menjadi formalitas, laporan terlihat rapi, tapi realitas tidak berubah,dan rakyat tetap menunggu hasil yang tak kunjung datang. Kami berpihak. Bukan pada kekuasaan, tapi pada integritas.

ASN Papua yang bekerja jujur mungkin tidak banyak bicara. Mereka ada di distrik-distrik, di kantor kecil, di balik meja yang jauh dari sorotan. Mereka tidak pandai mencari perhatian, tapi mereka menjaga agar sistem tidak runtuh sepenuhnya. Mereka bukan sekadar pegawai. Mereka adalah benteng terakhir birokrasi yang masih bisa dipercaya.

Jalan ke Depan: Bukan Sekadar Retorika

Perubahan tidak akan datang dari slogan.

Ia harus dimulai dari:

penegakan sistem merit yang nyata, bukan formalitas,

perlindungan bagi ASN yang berani bersikap benar,

dan keberanian pimpinan untuk menghargai kinerja, bukan kedekatan atau pencitraan.Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi ASN yang pintar menyesuaikan diri bukan memperbaiki keadaan.

Sebuah Pilihan yang Tidak Netral

Pada akhirnya, setiap ASN di Papua menghadapi pilihan yang sama:

ikut arus, atau berdiri tegak.

Karena dalam situasi seperti ini, netralitas sering kali hanya nama lain dari pembiaran.

Papua tidak butuh ASN yang sekadar aman.

Papua butuh ASN yang berani benar.(red)

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini di Proteksi Pemilik!!