Ketika “Pesta Babi” Dianggap Berbahaya: Ketakutan Apa yang Sebenarnya Sedang Dijaga?

Spread the love

Pesta Babi bukan sekadar film. Ia menjelma menjadi ruang cermin yang memaksa publik melihat ulang hubungan antara negara, kekuasaan, modal, dan Papua. Karena itu, ketika beberapa agenda nonton bareng di kampus atau ruang publik mengalami penolakan, pembatalan, bahkan pelarangan terselubung, pertanyaan besarnya bukan lagi “mengapa film ini kontroversial?”, melainkan: apa yang sebenarnya ditakuti?Di banyak negara demokratis, film kritik sosial lazim dianggap bagian dari kebebasan berekspresi.

Namun di Indonesia, terutama ketika isu yang disentuh menyangkut Papua, kolonialisme, militerisme, eksploitasi sumber daya alam, dan relasi negara dengan korporasi besar, sebuah karya seni sering diperlakukan bukan sebagai karya budaya, melainkan ancaman politik.Film yang Tidak Sekadar Bercerita“Pesta Babi” bekerja bukan lewat propaganda kasar, tetapi lewat simbol dan analogi sosial. Ia menggambarkan bagaimana pembangunan bisa berubah menjadi wajah baru kolonialisme: tanah adat diambil atas nama investasi, hutan dibuka atas nama kemajuan, masyarakat adat dipindahkan atas nama proyek strategis nasional.

Film seperti ini menjadi sensitif karena ia menyentuh pertanyaan yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka di ruang akademik formal : Siapa sebenarnya yang menikmati hasil pembangunan?

Mengapa wilayah kaya sumber daya justru menyimpan kemiskinan struktural?

Mengapa kritik terhadap proyek besar sering dicap anti-negara?

Apakah modernisasi selalu identik dengan keadilan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat film ini tidak nyaman bagi sebagian pihak, sebab ia membongkar narasi tunggal pembangunan yang selama ini dibangun sangat rapi.

Kampus dan Ketakutan Baru Ironisnya, pelarangan atau pembatalan nobar justru terjadi di beberapa lingkungan kampus tempat yang seharusnya menjadi ruang paling bebas untuk berpikir kritis.

Di sinilah muncul paradoks besar demokrasi kita : universitas sering mengajarkan teori kebebasan akademik, tetapi gugup ketika kritik menyentuh isu yang dianggap sensitif secara politik.Ketakutan itu biasanya tidak hadir secara terang-terangan.

Ia muncul dalam bentuk:“demi menjaga stabilitas,”“khawatir memicu polemik,”“belum ada izin,”“materinya sensitif,”atau “dikhawatirkan mengganggu keamanan.

”Bahasa-bahasa birokratis ini sering menjadi wajah modern sensor sosial. Padahal, kampus seharusnya bukan tempat membungkam pertanyaan, tetapi tempat menguji gagasan secara terbuka.Ketakutan terhadap Narasi Tandingan Yang paling ditakuti dari film seperti “Pesta Babi” sebenarnya bukan adegannya, melainkan narasinya.

Selama bertahun-tahun, Papua lebih sering dibicarakan dari sudut keamanan dan pembangunan fisik. Film ini mencoba membalik sudut pandang itu : melihat Papua dari mata masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidupnya. Ketika masyarakat mulai melihat bahwa “pembangunan” juga bisa menghadirkan luka sosial, konflik ekologis, dan ketimpangan kekuasaan, maka legitimasi moral pembangunan mulai dipertanyakan. Di titik itulah ketakutan muncul. Karena narasi tandingan selalu berbahaya bagi kekuasaan yang terlalu lama nyaman dengan satu versi cerita.Analogi Kolonialisme Zaman Modern Film ini menggunakan analogi kolonialisme bukan dalam bentuk penjajahan klasik, tetapi dalam bentuk yang lebih halus : tanah diambil lewat izin,hutan dibuka lewat regulasi,masyarakat dipindahkan lewat proyek,kritik dilemahkan lewat stigma.

Kolonialisme modern tidak selalu datang dengan senjata. Kadang ia datang dengan proposal investasi, bahasa pembangunan, dan statistik pertumbuhan ekonomi. Dan justru karena bentuknya lebih halus, ia lebih sulit dikenali.

Efek Streisand: Semakin Dilarang, Semakin Dicari Sejarah menunjukkan satu hal: karya yang dilarang justru sering menjadi lebih kuat.Larangan nobar hanya membuat publik bertanya: “Memangnya ada apa di dalam film itu? ”Dalam era digital, pembungkaman tidak lagi mudah dilakukan. Ketika satu ruang ditutup, diskusi pindah ke media sosial, YouTube, forum mahasiswa, dan ruang-ruang komunitas.Akibatnya, pelarangan sering berubah menjadi promosi tidak langsung.Demokrasi Diuji dari Cara Negara Menghadapi KritikFilm seperti “Pesta Babi” pada akhirnya bukan ujian bagi penonton, tetapi ujian bagi demokrasi Indonesia sendiri.

Apakah negara cukup percaya diri membiarkan kritik hidup?

Apakah kampus masih berani menjadi ruang intelektual yang merdeka?

Dan apakah masyarakat siap menerima bahwa pembangunan bisa dipandang berbeda oleh mereka yang hidup langsung di tanah konflik?

Karena ketika sebuah film dianggap terlalu berbahaya untuk ditonton bersama, mungkin masalahnya bukan pada filmnya.

Mungkin masalahnya adalah: film itu terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini berusaha disembunyikan.

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini di Proteksi Pemilik!!