Di tengah sejarah panjang eksploitasi sumber daya alam Papua, nama Yosepha Alomang muncul sebagai simbol keberanian perempuan adat yang berdiri melawan ketidakadilan. Bagi banyak orang Papua, ia bukan hanya seorang aktivis, melainkan suara rakyat kecil yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang konflik, kemiskinan, dan hilangnya tanah adat.
Yosepha Alomang adalah perempuan asli Papua dari Suku Amungme yang lahir dan besar di kawasan pegunungan Timika. Ia dikenal luas sebagai pejuang hak asasi manusia dan pembela masyarakat adat Papua, terutama masyarakat yang terdampak aktivitas pertambangan besar di wilayah Papua Tengah.
Mama Yosepha bukan berasal dari kalangan elit politik ataupun akademisi. Ia hanyalah perempuan kampung yang hidup sederhana. Namun pengalaman pahit yang ia alami sejak muda mengubahnya menjadi simbol perjuangan rakyat Papua.
Di mata masyarakat adat, ia dianggap sebagai “Mama Perlawanan Papua” karena keberaniannya berbicara ketika banyak orang memilih diam.