Mengenal Sosok Sutradara dan Penulis Film Dokumenter Pesta Babi yang Kontroversi, Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale

Spread the love

Dandhy Dwi Laksono (lahir 29 Juni 1976) adalah seorang jurnalis Indonesia yang terkenal dengan jurnalisme investigasinya, yang mencakup karya tulis dan film dokumenter. Istrinya, Irna Gustiawati, adalah pemimpin redaksi Liputan6.com.

Dia dikenal untuk film dokumenter 2019nya, Sexy Killers, yang dirilis sebelum pemilihan umum Indonesia 2019, yang mendokumentasikan kolusi antara elit politik dan industri pertambangan batu bara yang bertanggung jawab untuk kerusakan lingkungan.

Karier Jurnalismenya diawali pada tahun 1990. Pria kelahiran Lumajang ini alumnus Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Pendidikan nonformal ia peroleh dari Ohio University Internship Program on Broadcast Journalist Covering Conflict, Amerika Serikat (2007) dan British Council Broadcasting Program, London (2008).

Ia juga ikut berbagai workshop dan seminar tentang jurnalistik/media di Filipina, Thailand, Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan. Dandhy, sapaan akrabnya, memulai karier jurnalistik pada 1998 di tabloid Kapital dan majalah Warta Ekonomi. Ia lalu beralih ke media radio, Pas FM, Smart FM, Ramako, atau menjadi stringer di radio ABC Australia. Lalu pindah lagi ke televisi menjadi produser berita di Liputan 6 SCTV dan Kepala Seksi Peliputan di RCTI. Ia juga pernah memimpin majalah dan situs acehkita.com sebuah media alternatif di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh (2003-2005).

Dandhy lahir 29 Juni 1976 di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dandhy menikah dengan Irna Gustiawati, yang meninggal dunia pada 30 Oktober 2024 di usia 50 tahun. Dandhy adalah pendiri studio produksi dokumenter Watch Doc. Dia sebelumnya bekerja di Acehkita.com, Liputan6.com dari SCTV, RCTI, dan ABC Radio.

Produk film dokumenter

Yang Ketu7uh (2014)

Samin vs Semen (2015)

Kala Benoa (2015)

Jakarta Unfair (2016)

Sexy Killers (2019)

Kiri Hijau Kanan Merah (2019)

The Bajau (2020)

Pulau Plastik: Perjalanan dan Catatan untuk Masa Depan (2021)

The Endgame (2021)

Barang Panas (2023)

Dragon for Sale (2023)

Silat Tani (2023)

Dirty Vote (2024)[10]

Dirty Vote II O3 (2025)

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026)

Produk tulisan

Indonesia For Sale (2009)

Menyingkap Fakta: Panduan Liputan Investigasi Media Cetak, Radio, dan Televisi (2009)

Jurnalisme Investigasi: Trik dan Pengalaman Para Wartawan Indonesia Membuat Liputan Investigasi di Media Cetak, Radio, dan Televisi (2010)

Mematuhi Etik Menjaga Kebebasan Pers (2012)

Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru (2025)

Penghargaan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Award 2008, Karya jurnalistik terbaik atas liputan investigasi kasus Munir

Ramon Magsaysay Award 2021, Kategori Emergent Leadership atas kontribusi dalam jurnalisme investigatif dan documenter. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Dandhy_Laksono)

Nama Cypri Dale menjadi perhatian publik setelah film dokumenter investigasi berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita viral di media sosial. Dilansir dari Suara, film tersebut digarap melalui kolaborasi antara Cypri Dale dan Dandhy Laksono.

Masyarakat selama ini lebih familier dengan nama Dandhy Dwi Laksono sebagai sosok di balik berbagai sinema investigatif bertema sosial-politik. Namun, dalam dokumenter Pesta Babi, Cypri Dale memegang peran krusial dalam menyusun narasi mengenai masyarakat adat Papua, konflik agraria, serta eksploitasi hutan.

Cypri Dale bukan sekadar pembuat film dokumenter. Ia merupakan seorang antropolog sosial, peneliti, sekaligus aktivis yang bertahun-tahun fokus pada isu pembangunan, hak masyarakat adat, dan perubahan sosial di Indonesia Timur.

Pria yang memiliki nama lengkap Cypri Jehan Paju Dale ini dikenal luas di dunia akademik internasional berkat fokus risetnya pada politik pembangunan dan perjuangan masyarakat adat di Papua. Ia sukses meraih gelar PhD di bidang Antropologi Sosial dari University of Bern, Swiss, pada 2018.

Disertasi doktoralnya mengupas tentang perjuangan antikolonial serta transformasi sosial masyarakat Papua Barat. Selain di Swiss, Cypri Dale juga pernah menjadi peneliti dan fellow di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang, serta University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

Melalui berbagai penelitian akademisnya, ia banyak mengkaji antropologi agama Kristen, korupsi sistemik, hubungan masyarakat adat dengan lingkungan, hingga relasi manusia dengan makhluk hidup lain di Papua dan Flores. Pendekatan ini membuat karyanya terasa dekat dengan realitas sosial di lapangan.

Peran Penting dalam Dokumenter Pesta Babi

Cypri Dale bertindak sebagai sutradara pendamping bersama Dandhy Laksono dalam memproduksi film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Dokumenter berdurasi sekitar 96 menit tersebut menyoroti dampak proyek food estate dan industri skala besar terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.

Film ini merekam aktivitas pembukaan hutan alam dalam skala masif di wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Melalui karya ini, kedua sutradara memperlihatkan bagaimana proyek pangan dan energi nasional memengaruhi eksistensi suku Awyu, Marind, hingga Muyu.

Salah satu poin utama yang disorot adalah tradisi pesta babi pada masyarakat suku Muyu. Tradisi tersebut diangkat sebagai simbol ikatan erat antara masyarakat adat dengan tanah dan hutan leluhur mereka.

Kontroversi Pembubaran Nonton Bareng

Dokumenter Pesta Babi mulai menuai sorotan luas pada Mei 2026 setelah sejumlah agenda nonton bareng dan diskusi publik di beberapa daerah dibubarkan secara paksa. Pemutaran film di tingkat kampus dan komunitas seperti di Mataram dan Ternate menghadapi penghentian oleh pihak tertentu.

Insiden pembubaran tersebut justru memicu rasa penasaran publik secara meluas di ruang digital. Selain karena kontroversinya, masyarakat tertarik karena film ini berani mengupas isu eksploitasi hutan Papua secara mendalam yang jarang muncul di ruang publik nasional.

Keterlibatan Cypri Dale dalam proyek ini dinilai penting karena ia mampu menghadirkan perspektif orang Papua itu sendiri. Hal tersebut membuat film Pesta Babi terasa lebih personal, emosional, sekaligus kuat dari sisi antropologi dan sosial.(Sumber : https://www.babelinsight.id/mengenal-cypri-dale-sutradara-film-pesta-babi)

Dikutip dari Wkipedia dan babelinsight

Comments (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten ini di Proteksi Pemilik!!